Tegangan, Arus, dan Power…………

26 02 2009

<!– /* Font Definitions */ @font-face {font-family:”Cambria Math”; panose-1:2 4 5 3 5 4 6 3 2 4; mso-font-charset:0; mso-generic-font-family:roman; mso-font-pitch:variable; mso-font-signature:-1610611985 1107304683 0 0 159 0;} @font-face {font-family:Calibri; panose-1:2 15 5 2 2 2 4 3 2 4; mso-font-charset:0; mso-generic-font-family:swiss; mso-font-pitch:variable; mso-font-signature:-1610611985 1073750139 0 0 159 0;} /* Style Definitions */ p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal {mso-style-unhide:no; mso-style-qformat:yes; mso-style-parent:””; margin:0in; margin-bottom:.0001pt; mso-pagination:widow-orphan; font-size:11.0pt; font-family:”Calibri”,”sans-serif”; mso-fareast-font-family:Calibri; mso-bidi-font-family:”Times New Roman”;} .MsoChpDefault {mso-style-type:export-only; mso-default-props:yes; font-size:10.0pt; mso-ansi-font-size:10.0pt; mso-bidi-font-size:10.0pt; mso-ascii-font-family:Calibri; mso-fareast-font-family:Calibri; mso-hansi-font-family:Calibri;} @page Section1 {size:8.5in 11.0in; margin:1.0in 1.0in 1.0in 1.0in; mso-header-margin:.5in; mso-footer-margin:.5in; mso-paper-source:0;} div.Section1 {page:Section1;} –>
/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:”Table Normal”;
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-priority:99;
mso-style-qformat:yes;
mso-style-parent:””;
mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt;
mso-para-margin:0in;
mso-para-margin-bottom:.0001pt;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:10.0pt;
font-family:”Calibri”,”sans-serif”;}

Voltage (Tegangan)

Pengertian dan Definisi Tegangan

Definisi 1:

Voltage atau dalam bahasa Indonesia disebut tegangan adalah beda potensial antara 2 titik dalam sirkuit rangkaian listrik yang sering diekspresikan dalam volt.

Definisi 2:

Voltage a.k.a tegangan adalah ekspresi kuantitatig besarnya perbedaan potensial dalam muatan antara 2 titik dalam medan listrik.

Semakin besar tegangan maka semakin besar arus listrik yang dihasilkan.

Definisi 3:

Voltage adalah ukuran dari electromotive force. Electromotive force adalah “tekanan listrik” yang membuat elektron bergerak di dalam rangkain listrik. Ada banyak sumber EMF (electromotive force) yaitu baterai, generator, dll.

Penjelasan 1:

Untuk memudahkan ilustrasi, tegangan dapat dianalogikan dengan aliran air.

Bila kita memiliki dua buah tabung berisi yang dihubungkan oleh sebuah pipa maka aliran air dalam pipa penghubung akan relatif stabil saat tinggi tabung pada tabung 1 dan tabung 2 sama. Bila salah satu tinggi tabung kita naikkan maka dapat dipastikan akan terjadi aliran air dari tabung yang lebih tinggi ke tabung yang lebih rendah. Semakin tinggi tabung di salah satu tabung maka aliran air akan semakin deras mengalir. Besarnya tinggi tabung menyatakan besarnya energi potensial yang dimiliki.

Semakin besar perbedaan energi potensial maka semakin besar juga air mengalir. Hal ini juga berlaku untuk aliran elektron. Saat terjadi beda potensial dalam konduktor maka akan terjadi aliran elektron yang nantinya menyebabkan timbulnya arus listrik. Semakin besar beda potensial yang terjadi maka semakin besar pula arus yang mengalir.

Penjelasan 2:

Analogi lain yang juga sering dipakai untuk menggambarkan penjelasan tegangan, arus dan power adalah system pipa air di rumah. Di rumah biasanya kita memilki tank air yang dihubungkan dengan selang. Tank air ini memiliki tekanan tertentu. Bila tekanan air ini ditingkatkan maka kemungkinan besar air akan keluar mengalir melalui selang. Begitu pula dengan aliran listrik. Bila beda potensial (tegangan) kita tingkatkan maka aliran arus akan terjadi.

Penjelasan 3:

Baterai dibuat sedemikina rupa sehingga ada perbedaan antara muatan elektron di satu sisi dan sisi lainnya. Pada dasarnya sisi dengan kelebihan elektron ingin bergerak ke sisi yang lebih positif sehingga pada akhirnya tercapai keseimbangan. Hal ini hanya bisa terjadi bila terdapat konduktor antara dua sisi tersebut. Adanya beda potensial yang dinyatakan dengan beda muatan antara satu sisi dengan sisi lainnya menyebabkan elektron dapat mengalir bila baterai dihubungkan dengan konduktor.

Satuan Unit dan Simbol Voltage

Satuan unit yang digunakan adalah volt, standard SI

Tegangan sering disimbolkan dengan V, huruf kapital tegak

Simbol untuk satuan unit tegangan adalah v, huruf kecil tegak

1 volt akan menggerakkan 1 coulomb (6.24 x 1018) muatan pembawa dalam hal ini electron melewati hambatan sebesar 1 ohm dalam 1 detik

Electric Current (Arus Listrik)

Pengertian dan Definisi Arus Listrik

Definisi 1:

Arus listrik adalah besarnya laju aliran muatan yang melewati sebuah penampang konduktor. Sering diasumsikan sebagai aliran muatan positif (walaupun sebenarnya yang mengalir adalah elektron).

Penjelasan:

Dalam suatu rangkaian listrik, sebenarnya saat suatu sisi konduktor mengalami kelebihan elektron maka kecenderungan konduktor tersebut akan mengalirkan elektronnya ke sisi yang lebih positif. Dengan demikian terjadi aliran elektron di dalam konduktor. Yang dimaksud dengan arus listrik adalah besarnya elektron yang dialirkan di satu titik pada rangkaian tersebut. Arah arus ditatapkan berlawanan dengan arah aliran elektron yaitu dari sisi bermuatan positif ke sisi bermuatan negatif. Bila dalam analogi selang air di atas, arus listrik adalah besarnya aliran air yang mengalir di dalam selang.

Satuan Unit dan Simbol Arus Listrik

Satuan unit arus listrik adalah ampere

Simbol arus listrik adalah I

Simbol untuk satuan unit arus listrik adalah A

1 ampere = 1 C/s

Berarti bila dinyatakan suatu rangkaian listrik memiliki arus 1 A berarti di satu titik dalam rangkaian tersebut dalam 1 detik terjadi aliran muatan pembawa (elektron) sebesar 1 Coloumb (1 Coulomb = 6,24X 1018 elektron).

Jenis arus listrik umumnya dibagi 2 yaitu:

DC (Direct Current) : aliran elektron kontinu dalam arah yang sama

AC (Alternating Current) : aliran elektron yang arahnya bolak-balik secara periodic

Power (Daya Listrik)

Pengertian dan Definisi Daya Listrik

Definisi 1:

Daya listrik atau Electrical Power adalah besarnya energi listrik yang dialirkan oleh rangkaian listrik. Saat arus listrik mengalir dalam rangkaian listrik, rangkaian listrik akan mentransfer energy untuk melaukan kerja mekanik atau termodinamik. Berikut adalah alat-alat yang mengkonversikan energy listrik menjadi bentuk-bentuk energy lain yang bermanfaat yaitu panas, cahaya, gerak, suara, hingga perubahan kimia.

Definsi 2:

Penjelasan 1:

Bila kita lajutkan analogi listrik dengan aliran air, penjelasna akan daya listrik adalah sebagai berikut. Bayangkan selang air dan kincir air, air yang keluar dari selang akan menggerakkan kincir air.Kita dapat meningkatkan besarnya daya kincir air dengan 2 cara yaitu dengan meningkatkan besarnya tekanan air, sehingga air yang keluar berkekuatan lebih dalam menggerakkan kincir dan atau meningkatkan besarnya debit air yang mengalir dari selang. Cara pertama tidak lain adalah meningkatkan besarnya tegangan atau beda potensial dan cara kedua adalah meningkatkan besarnya arus listrik sehingga tercipta daya listrik yang besar.

Satuan Unit dan Simbol Daya Listrik

Dari penjelasan 1, terlihat bahwa hubungan anatar tegangan, arus, dan daya listrik adalah sebagai berikut:

P = I V

P , simbol power (daya listrik) dengan satuan watt

I , simbol arus listrik dengan satuan ampere

V , simbol tegangan dengan satuan volt

Satuan unit untuk daya listrik adalah watt

Simbol untuk daya listrik adalah P

Simbol untuk satuan unit daya listrik adalah W





Apa itu Kesetrum?

17 02 2009

Sebelum membahas apa itu kesetrum? Kita harus mampu melihat bagaimana sebenarnya aliran listrik dalam tubuh manusia dan di bagian manakah terdapat aliran listrik dalam tubuh manusia. Bayangkan tubuh kita seperti sistem yang sangat besar, mesin yang sangat rumit terdiri dari komponen-komponen yang beragam seperti komponen gerak yaitu lengan dan kaki, darah sebagai media transportasi, paru-paru untuk bernafas,  indera penciuman dan penglihatan untuk mengidentifikasi rangsangan dari lingkungan, dan masih banyak lagi. Seperti halnya sebuah mesin, untuk mengatur fungsi kerja semua komponen diperlukan sistem pengatur yang biasa disebut Sistem Saraf Pusat (Central Nervous System). Fungsi ini dijalankan oleh otak dan spinal cord. Aliran perintah dari otak ke komponen-komponen tubuh ini melalui suatu sistem yang disebut Sistem Saraf Periperal.

Jadi, di sebelah manakah aliran listrik dalam tubuh kita? Bayangkan Sistem Saraf Periperal kita seperti jaringan raksasa yang terdiri dari kabel-kabel yang malang meilntang di seluruh tubuh kita. Ya kurang lebih mirip dengan kabel-kabel listrik yang tertanam di dalam dinding-dinding rumah kita. Saat klita menekan tombol untuk menyalakan lampu maka listrik akan mengalir melalui kabel dan kemudian lampu menyala. Kurang lebih begitu juga yang terjadi dalam tubuh kita. Otak lah yang mengendalikan semua bagian dalam tubuh kita dengan tukar menukar sinyal listrik.

Contohnya seperti ini bila tangan kita tidak sengaja menyentuh panci panas. Maka panas dari panci tersebut akan diteruskan dalam sebagai impuls dari lingkungan lalu diteruskan ke otak melalui kabel-kabel (saluran saraf) dalam Sistem Saraf Periperal lalu setelah tiba di Sistem Saraf Pusat (otak dan spinal cord) impuls diolah kemudian diambil tindakan terhadap impuls yang disebut dengan response. Otak kemudian mengirimkan response tersebut melalui Sistem Saraf Peripheral kemudian diteruskan ke tangan dan  tangan melepaskan peganggannya dari panci panas tersebut.

Secara singkat, sinyal elektrik (listrik) memiliki fungsi ganda dua arah dalam tubuh kita yaitu melaporkan yang terjadi kepada otak (impuls dari lingkungan) dan juga membawa response hasil olahan dari otak ke bagian tubuh kita. Tentunya tidak semua informasi masuk ke dalam otak, contohnya saja gerak refleks. Tapi tidak akan dibahas pada tulisan ini.

Nah, jadi apakah yang terjadi saat kita menyentuh kabel listrik? Intinya, sinyal elektrik dari luar tubuh kita akan mengganggu dan mengacaukan sinyal elektrik internal (dalam tubuh kita). Otot kita yang tidak tahu menahu darimana sinyal tersebut berasal akan tetap merespon sebagaimana biasa (seakan-akan sinyal tersebut berasal dari otak juga…padahal bukan!).

Sinyal dari otak memerintahkan otot untuk berkontraksi dan relaksasi sehingga hal ini juga yang akan terjadi bila sinyal listrik dari luar mauk ke dalam tubuh kita. Contohnya saja otot jantung. Otot jantung biasanya sangat sensitif terhadap aliran listrik. Pada kondisi normal, otot jantung harus bergerak harmonis, tepat, dan periodik untuk menjaga jantung tetap berfungsi. Dalam kemungkinan yang paling buruk, bila kita kesetrum dekat dengan lokasi jantung kita, dan sinyal listrik dari luar ini mengacaukan kerja otot jantung maka kemungkinan kita dapat mengalami serangan jantung.

Kenapa Kesetrum Bisa Berbahaya Tubuh Manusia?

Selain mengacaukan aliran sinyal elektrik internal dalam tubuh manusia. Kekacuan yang signifikan tentunya dapat membahayakan keselamatan jiwa manusia. Misalkan saja, sinyal listrik eksternal memiliki frekuensi 50-60 hertz (ini berarti sinyal naik dan turun 50-60 kali dalam satu detik), hal ini sama dengan pesan yang dikirmkan impuls dari reseptor kulit yang menginformasikan rasa sakit ke otak kita. Dengan kata lain, tanpa alasan yang jelas, kita akan merasakan rasa sakit yang amat sangat. Otak akan memperlakukan sinyal listrik yang masuk ke dalam Sistem Saraf Periperal dan mengolahnya di Sistem Saraf Pusat tanpa menghiraukan darimana asal aliran listrik tersebut dan otot akan bergerak mengikuti tegangan dan frekuensi yang dihantarkan oleh Sistem Saraf Periperal.

Selain rasa sakit yang amat sangat dan dapat mengganggu fungsi kerja otot jantung, seperti yang telah diterangkan di atas, bahaya kesetrum lainnya adalah:

a. Psychological Shock (Kejutan Listrik)

Orang yang kesetrum umumnya mengalami shock, kaget, atau terkejut seketika. Besarnya Shock yang dirasakan sangat bergantung kepada besarnya tegangan, durasi, arus, jalur aliran, frekuensi, dll. Kaget atau kejutan listrik sudah mulai dapat dirasakan untuk DC 5-10 mA dan untuk AC 1-10 mA pada frekuensi 60 Hz

b. Ventricular Fibrillation (Fibrilasi Otot Jantung)

Fibrillation adalah kontraksi serat otot jantung yang cepat, tidak beraturan, tidak sinkron jika terkena arus yang cukup besar (frekuensi 50-60 Hz untuk AC dengan arus 60 mA dan 300-500mA untuk DC, tetapi bila aliran listrik langsung berada di jalur menuju jantung, arus lebih kecil dari 1 mA sudah dapat menyebabkan fibrillation). Hal ini dapat berbahaya karena sel-sel otot bergerak tidak beraturan sehingga jantung mengalami gangguan saat menjalankan funsinya sebagai alat pemompa darah. Bila besar arus yang masuk mengacaukan jantung melebihi 200 mA maka otot jantung sudah tidak dapat digerakkan lagi dan menyebabkan kematian pada manusia.

c. Burns (Luka Bakar)

Luka bakar diakibatkan pemanasan jaringan akibat menerima tegangan tinggi 500-1000 volts. Bahkan pada tegangan 16 volts bias berakibat fatal pada manusia jika terkena organ penting seperti jantung.

d. Neurological Effect

Kestrum juga dapat menyebabkan gangguan pada system Saraf kita terutama jantung dan paru-paru. Kesetrum yang tidak mematikan bisa menyebabkan neuropathy (gangguan, kerusakan, ketidakseimbangan dalam Sistem Saraf Periperal). Gejala penderita neuropathy adalah otot bekerja lemah, tegang,dan kejang. Kehilangan keseimbangan dan koordinasi juga muncul.

Dari sini, dapat terlihat jelas bahwa kesetrum membahayakan kesehatan manusia, kesetrum dapat menggangu fungsi kerja organ-organ tubuh manusia, mengakibatkan degradasi sistem saraf, hingga mengakibatkan kematian pada diri manusia.

Berapakah Ambang Setrum yang Berbahaya Bagi Tubuh Manusia?

Ambang batas dimana manusia dapat kesetrum sebenarnya tidak bergantung kepada tegangan listrik tetapi bergantung kepada arus listrik yang masuk ke dalam tubuh manusia. Arus 100-200 mA berbahaya bagi manusia. Benda apapun yang berada di sekitar kita dan memiliki arus 10 MA berpotensi untuk menyebabkan rasa sakit atau kejutan listrik.

Interpretasi

Arus (mA)

Keterangan

Nilai Batas Arus Aman

1 mA atau kurang

Tidak menyebabkan sensasi apapun- tidak berasa

1 mA – 8 mA

Menimbulkan kejutan listrik (shock) tetapi tidak menyakitkan. Orang yang kestrum dapat melepaskan diri karena kendali otot tidak hilang akibat arus yang kecil

Nilai Batas Arus Tidak Aman

8  mA  –  15 mA

Menimbulkan kejutan listrik disertai rasa sakit, orang yang kesetrum masih bisa melepaskan diri karena kendali otot tidak hilang

15 mA –  20 mA

Menimbulkan kejutan listrik disertai rasa sakit, orang yang kesetrum sudah tidak bisa melepaskan diri karena kendali otot hilang

50 mA –  100 mA

Terjadi ventricullar fibrillation (otot jantung bergerak tak beraturan sehingga jantung kehilangan kendali untuk mejalankan fungsinya). Kondisi ini kemungkinan dapat menyebabkan hilangnya nyawa orang tsb.

100 mA – 200 mA

Terjadi ventricullar fibrillation

200 mA atau lebih

Orang yang kesetrum mengalami luka bakar berat, kontraksi otot di hampir seluruh bagian tubuh hingga otot dada mengencang dan menutup jantung hingga kesetrum berakhir.

Apa Bedanya Kesetrum DC dan Kesetrum AC?

Perbandingan bahaya kesetrum AC dan DC telah menjadi topik debat sejak tahun 1880-an. DC cenderung menyebabkan kontraksi otot yang kontinu sehingga menyebabkan korban menjadi konduktor,karena hal ini resiko jaringan terbakar akibat setrum menjadi lebih besar.

Sedangkan untuk kesetrum AC, besarnya arus AC berpengaruh terhadap sinyal listrik dalam jantung dan mngakibatkan korban beresiko mengalami fibrilasi (otot jantung bergerak irregular dan  independen sehingga fungsi kerja jantung untuk memompa darah menjadi terhambat). Pada frekuensi tinggi, AC menyebabkan berbagai potensi bahaya seperti luka bakar dan kerusakan jaringan yang tidak disertai rasa sakit secara langsung. Umumnya, semakin tinggi frekuensi AC setrum akan menjalar di kulit dan cenderung tidak masuk dan mengganggu organ vital seperti jantung. Tetapi luka bakar yang disebabkan cenderung parah bila setrum beraasal dari AC tegangan tinggi.

Sumber:

Cornell Center for Material Research

http://www.ccmr.cornell.edu/education/ask/search.html

Last accessed: February 15, 2009

Electric Shock-Wikipedia , the free encyclopedia

http://en.wikipedia.org/w/index.php?title=Electric_shock&action

Last accessed: February 15, 2009

Electrical Safety

http://www.elec-toolbox.com/Safety/safety.htm

Last accessed: February 15, 2009

Neuropathy

http://en.wikipedia.org/wiki/Neuropathy.htm

Last accessed: February 15, 2009





First Lecturer who directly change my mind….

13 02 2009

It’s crazy..when I met this lecturer for the first time……

He is so unique……..He is not ordinary lecturer. In first class meeting Mr. Budi had told many things fundamental. He inspired me to find my life goal. And now, I am still searching on it. I can’t imagine if I just spend my lifetime to work in somewhere multinational company and then died. No, I won’t. Never have, never will. I’ll leave the world with footprints….

For Mr. Budi Rahardjo:

I hope we won’t just spend our time to talk about electronic industry. But more than that. The advice, the motivation, and others. Because, those I will remember forever……………..

Great to meet you….Sir!

PS: Buat tugas yang setrum2 bentar ya pa…masih menelaah nih…hehehe…..





Prostitution….Should be legalized or abolished?

13 02 2009

Next Blog….Please wait…still in progress….





My First Blog…..Enjoy Everyone!^_~

13 02 2009

Well, actually I am not a kind of person who loves to share the detail of my life . But, just for you my beloved lectures ever, Mr. Budi Rahardjo version 3.1, I’ll do it….

I like controversial issues. I love to use harsh language. that’s way, I hate to share it with other people. Because I know, not all people can accept my way in thinking and speaking. My first writing will be about corruption. I need to write this in order to meet the requirements of my scholarship draft. Here it goes…enjoy….


Jalan Panjang Menuju Negara Bebas Korupsi

Bila anda ditanya mengenai apa yang paling dibanggakan dari bangsa dan negara Indonesia, mungkin sebagian besar dari Anda dapat langsung menjawab dengan cepat. Jawaban yang akan kita dengar mungkin bervariasi mulai darikekayaan sumber daya alam Indonesia, keberagaman budaya dan warisan leluhur hingga kehebatan anak bangsa dalam ajang olahraga bulutangkis di tingkat dunia. Tetapi bila pertanyaan itu diajukan kepada mereka yang kritis, pastilah lidah mereka menjadi kelu untuk menjawab.

Di dalam pikiran saya berkelebat ingatan tentang bagaimana sebuah paradoks sedang kita tonton bersama. Negara yang kaya sumber daya alam tetapi tidak mampu mengolahnya dengan baik, budaya dan warisan leluhur kita justru dipatenkan oleh negara lain, dan prestasi olahraga bulutangkis perlahan tapi pasti mulai memudar. Tetapi di ruang lain otak saya, rasanya saya mampu menjawab pertanyaan tersebut. Indonesia berhasil menaikkan IPK (Indeks Persepsi Korupsi) dari posisi 3 dunia ke posisi puncak di tahun 2004. Dan sejak tahun 1996 hingga tahun 2007, kita dilansir tidak pernah beranjak dari angka 3[1]. Suatu ironi memang, saya seharusnya malu karena angka ini mengindikasikan bahwa moralitas, kepercayaan, dan pembangunan ekonomi bangsa sedang berada di titik yang mengkhawatirkan. Mengapa saya sampai berani mengatakan hal tersebut membanggakan karena saya yakin bila negara lain yang dijarah hingga miliaran dollar seperti ini tentunya negara tersebut sudah gulung tikar alias bangkrut.

Untuk mencari jawaban yang lebih relevan untuk pertanyaan di atas, saya pun mencoba menilik kembali buku sejarah zaman SD, SMP, dan SMA. Untuk sejenak saya pun terhanyut membayangkan peristiwa heroik yang terjadi pada masa itu untuk mencapai Indonesia merdeka. Hingga tahun 1945, Indonesia masih mampu menegakkan kepalanya untuk mengukir sejarah tetapi selepas tahun 1945 jangankan untuk menulis, untuk menoleh ke belakang saja kita tidak sanggup karena sekarang musuh kita bukanlah penjajah melainkan bangsa kita sendiri. Ya, penjahat perang yang telah membawa negara ini ke dalam penderitaan kemiskinan yang panjang, kualitas hidup yang buruk serta krisis multidimensi adalah bagian dari bangsa ini juga yang secara keji menjarah dan merampok uang rakyat melalui korupsi, kolusi, dan nepotisme.

Dari tiga modus operandi para penjahat perang di atas,yang paling sering didengung-dengungkan adalah korupsi. Berbagai iklan layanan masyarakat, spanduk, poster, hingga sticker dikerahkan untuk menyampaikan pesan pemberantasan korupsi. Tetapi efektivitas usaha ini masih menjadi tanda tanya besar. Tulisan ini selanjutnya akan mengajak Anda untuk memahami lebih jauh apa sebenarnya korupsi itu, bagaimana tahapan perkembangan korupsi, apa saja wujud-wujudnya, bencana yang diciptakannya hingga upaya melahirkan budaya anti korupsi.

Korupsi adalah kata serapan dari bahasa Inggris ‘corrupt’ yang artinya menggunakan kekuasaan untuk melakukan hal-hal ilegal demi imbalan uang atau kesempatan. Pada dasarnya ‘corrupt’ berasal dari bahasa Latin yaitu ‘com’ yang artinya bersama-sama dan ‘rumpere’ yang berarti pecah atau jebol. Transparency International mendefinisikan korupsi sebagai penyalahgunaan kekuasaan publik untuk kepentingan pribadi. Dari pengertian inilah, harusnya kita mampu menganalisis bahwa tindakan korupsi umumnya tidak dapat dilakukan sendirian melainkan berkelompok di bawah naungan suatu instansi, lembaga, atau badan pemerintah yang pengurusnya menggunakan kekuasaan publik untuk “menyejahterakan diri pribadi dan golongannya”. Apapun definisinya, akibat tindakn inilah terjadi kerusakan, pecah,dan jebolnya organ-organ tubuh negara kita.

Sebelum memulai perang terhadap korupsi ada baiknya kita mengenal latar belakang dan tahapan perkembangan korupsi. Menurut Bapak Imam Prasodjo dalam salah satu seminarnya tentang korupsiada 3 tahapan yang akan dilalui oleh seorang koruptor,yaitu:

  1. corruption by need (kebutuhan)

Sering kita mendengar bahwa penghasilan yang terbatas menjadi pemicu terjandinya korupsi. Korupsi jenis ini timbul bila ada salah kebutuhan mendesak seperti anggota keluarga jatuh sakit, anak melanjutkan studi, dll. Akhirnya untuk memenuhi kebutuhan ini seseorang akhirnya korupsi.

  1. corruption by greed (kerakusan)

Tahapan korupsi mulai berkembang saat ang koruptor mulai naik status dan kedudukannya. Gaya hidup yang mewah akibat tuntutan perannya membuat sang koruptor akan terus korupsi karena gaji berapapun rasanya tidak akan pernah cukup bagi pemenuhan nafsunya.

  1. corruption by system

Tahapan inilah yang paling parah karena korupsinya sudah tidak lagi dilakukan sembunyi-sembunyi dan perseorangan melainkan korupsi telah menyatu dengan sistem yang ada dan dilaksanakan berjamaah oleh seluruh komponen sistem. Sistem dibuat berbelit-belit agar peluang untuk mark up dan korupsi selalu terbuka lebar.

Bila korupsi sudah melebur dengan sistem yang ada sudah pasti akarnya pun membenam ke semua lapisan masyarakat dan memaksa saya, Anda, dan mereka menganggap praktek korupsi sebagai sesuatu yang lumrah sebagaimana diungkapkan Wakil Presiden Muhammad Hatta tahun 1960-an bahwa korupsi telah menjadi budaya masyarakat. Atau pendapat Edward Shils yang menyebut korupsi sudah berkembang menjadi ‘tacit knowledge’ yang menggerakkan hampir seluruh kesadaran kolektif bangsa. Masyarakat sadar bahwa korupsi itu salah tetapi tidak bisa hidup tanpanya[2]. Korupsi seakan menjadi “kebenaran dalam kesalahan”.

Diakui atau tidak, kita sudah tidur satu selimut dengan korupsi selama puluhan tahun. Jenis korupsi secara garis besar ada 3 yaitu: korupsi administratif, korupsi hukum, dan korupsi diskresi. Korupsi administratif merupakan korupsi yang paling akrab dengan kita. Korupsi jenis ini memungkinkan pelakunya untuk melakukan korupsi sesuai hukum yang berlaku yaitu dengan meminta imbalan atas pekerjaan yang memang seharusnya dilakukan. Korupsi jenis ini kita temukan semenjak kita dilahirkan ke bumi Indonesia hingga kita dikubur ke liang lahat, berawal dari pembuatan akta kelahiran, KTP, SIM, KK, Paspor, Surat Ahli Waris hingga Surat Keterangan Wafat. Semua proses pengurusannya memerlukan uang pelicin agar cepat dan mudah selesai. Korupsi jenis ini sudah dianggap biasa dan wajar. Masyarakat dan pegawai birokrasi seperti sudah sama-sam tahu. Dari sini kita perlu meyadarkan masyarakat bahwa pengurusan surat-surat di atas memang merupakan pekerjaan pegawai birokrasi dan sebagai upahnya mereka sudah mendapatkan gaji setiap bulannya. Adapun pengurusannya dipercepat memang sudah seharusnya demikian.

Korupsi jenis lain yaitu korupsi hukum, korupsi jenis ini secara gamblang telah melanggar hukum. Contohnya saja bila terjadi pelanggaran lalu lintas, sudah menjadi rahasia umum bila kasus dapat segera ditutup bila ada transaksi ‘uang damai’. Korupsi rupanya tidak mau menyerah, dari waktu ke waktu selalu berusaha bertransformasi dari suatu wujud ke wujud lainnya agar selalu dapat diterima. Akhirnya lahirlah korupsi diskresi, menurut saya ini adalah bentuk korupsi paling canggih. Bagaimana tidak, inilah bentuk korupsi yang memudahkan para wakil rakyat merenovasi istana-istananya dan mendapat uang tunjangan tambahan setiap bulannya. Menurut pakar hukum dan tata negara, Denny Indrayana, dengan adanya kebijakan ini para koruptor dapat berlindung di bawah payung hukum atas nama kebijakan yang menguntungkan mereka.

Dari serangkaian penjabaran mengenai korupsi berarti kita sudah melewati satu langkah penting yaitu mengenali musuh kita. Langkah selanjutnya adalah melihat apa saja yang telah dirusak oleh musuh kita dan bagaimana cara membangunnya kembali.

Ibarat sebuah penyakit, korupsi membawa serangkaian dampak buruk yang menyerang semua sendi kehidupan berbangsa dan bernegara. Meluasnya korupsi sebagi permasalahan yang muncul ke permukaan di negara-negara berkembang otomatis mengurangi dukungan dari negara donor untuk memberikan bantuan pembangunan. Kepercayaan investor pun turun akibat tingkat korupsi yang begitu tinggi. Hal ini tentu mengganggu pertumbuhan ekonomi negara yang bersangkutan karena modal yang dibutuhkan untuk membuka lapangan pekerjaan dan mengolah sumber daya alam tidak dapat diperoleh.Padahal dengan dibukanya sumber-sumber usaha caru kita mampu mempekerjakan penduduk dan memenuhi kebutuhan masyarakat. Di dalam tubuh pemerintah sendiri, besarnya biaya pembangunan tidak berbanding lurus dengan hasil yang diperoleh.Abnyak anggaran proyek yang di-mark up dan penggunaannya bocor disana-sini. Tentunya dalam hal ini rakyatlah yang paling dirugikan. Fasilitas publik tidak memadai padahal uang rakyat yang dihabiskan sudah cukup besar dan negara terpaksa berhutang untuk menambal APBN. Tidak berhenti sampai disitu, kehancuran yang lebih dahsyat adalah demoralisasi nilai-nilai bangsa. Jika hanya kondisi ekonomi yang terpuruk mungkin kita butuh 5 samapi 10 tahun untuk memperbaikinya tetapi bila nilai-nilai masyarakat yang mengalami pergeseran bukan tidak mungkin kita memerlukan satu generasi (30 tahun) untuk memulihkannya.

Untuk melihat implikasi lanjutan, ada pertanyaan menarik yang dberikan oleh seorang moderator talkshow di sebuah stasiun televisi. Mana yang lebih penting untuk dibasmi korupsi, perjudian, atau prostitusi? Orang yang ditanya menjawab kesemuanya sama pentingnya. Tetapi menurut saya korupsi lebih urgen untuk dibasmi. Bayangkan saja, walaupun pihak kepolisian setiap hari melaksanakan razia pembersihan judi dan prostitusi, hal ini tidak mungkin tercapai bila setiap yang ditangkap dapat bebas kembali setelah membayar sejumlah uang jaminan kepada aparat kepolisian. Upaya ini laksana bermain frisbee,tangkap lalu lepaskan kembali.

Untuk melawan korupsi yang sudah membudaya diperlukan usaha dan proses kontinu sehingga nilai-nilai baru dapat menggantikan nilai dan prinsip lama yang mengedepankan materi, pangkat, dan kedudukan sebagai ukuran kesuksesan seseorang walaupun untuk mendapatkannya orang tersebut memilih jalan menerabas yaitu korupsi.

Sekarang ini sering kita dapati bahwa mayarakat akan terkagum-kagum saat melihat seorang pejabat membelikan mobil mewah kepada ankanya. Masyarakat mengangggap bahwa sang bapak, yang ternyata seorang koruptor, telah sukses dalam menjalankan perannya dengan memenuhi semua kebutuhan keluargannya. Mayarakat tidak pernah mau tahu dari mana si bapak mampu mendapatkan uang sebesar itu padahal statusnya hanyalah seorang pegawai negeri biasa. Sedangkan bila mendapati seorang maling sapi di kampungnya, masyarakat langsung meledak amarahnya bahkan langsung menyusun jadwal ronda malam demi keamanan ternaknya. Disinilah terlihat mengapa topik korupsi cenderung dihindari masyarakat karena bagi masyarakat awam korupsi hanyalah hal-hal yang berhubungan dengan pejabat dan pemerintahan tingkat tinggi. Masyarakat kurang peduli karena mereka tidak merasa dirugikan secara langsung, mereka bahkan tidak dapat membayangkan bagaimana cara melarikan uang 2 miliar rupiah.Dari sini kita perlu mengajak masyarakat berpikir kritis dan sadar bahwa uang yang dicuri adalah uang mereka juga dan secara langsung mereka turut dirugikan. Untuk mengubah paradigma ini dapat dilakukan dengan pengadaan seminar mengenai arti kebangsaan dan korupsi agar rasa kepemilikan atas bangsa dan negara meningkat hingga akhirnya masyarakat mampu melakukan kontrol sosila melalui LSM sebagai society’s eye di lingkungannya.

Upaya berikutnya adalh meningkatkan kinerja sistem hukum yang berlaku. Selama ini banyak kasus korupsi yang berhenti di tengah jalan, sebut saja kasus korupsi (Alm.) Soeharto di 7 yayasan yang besarnya mencapai Rp1,4 triliun, kasus Bapindo yang kebobolan Rp1,3 triliun, dan masih banyak lagi. Kasus korupsi dipetieskan di tingkat peradilan dengan harapan masyarakat pun akan segera lupa. UU anti korupsi dibuat hanya menjadi lembaran penyempurna kitab hukum yang ada. Kenyataan ini sejalan dengan hasil survei Tranparency International yang menempatkan kepolisian, kejaksaan, parpol, dan DPR sebagai lembaga terkorup negeri ini. Kepolisian yang seharusnya menangkap koruptor, kejaksaan yang seharusnya mengusut dan memproses hukum koruptor, serta DPR sebagai pembuat undang-undang justru menjadi barisa terdepan pembela korupsi. Memang benar kenyataannya bahwa sistem kita telah teracuni korupsi hingga tulang sumsum. Tetapi bukan tidak mungkin bagi kita untuk membasminya. Sebagai referensi, kita dapat mengambil China sebagai contoh negara yang tegas mengibarkan bendera anti korupsi. Di negeri tirai bambu ini, setiap pejabat pemerintah yang terbukti korupsi langsung di hukum mati dan keluarga sang terpidana pun dilarang untuk menjadi pegawai negara. Sistem yang tegas seperti ini menyebabkan pegawai negerinya takut untuk korupsi karena resikonya lebih besar ketimbang manfaat yang didapat. Usulan tambahan dari saya pribadi adalah menambahkan nama tambahan “rampok” untuk koruptor dan keluarganya. Penganugerahan nama tambahan ini harus disertakan ke dalam setiap tanda identitas baik KTP, SIM, absensi daftar peserta kelas, dan Kartu Keluarga hingga 5 tahun ke depan. Pemberian hukuman fisik dan mental seperti ini akan menjadi shock therapy bagi seluruh bangsa sehingga orang yang akan mengambil korupsi sebagai jalan pintas dapat berpikir ulang mengingat sejuta konsekuensi yang akan menimpanya.

Ringkasnya, upaya pembentukan budaya anti korupsi dimulai dari usaha kuratif (penyembuhan) seperti di atas. Ibarat ladang, sebelum dimulai musim tanam harus disiangi terlebih dahulu dari ilalang yang tumbuh. Selanjutnya mari kita teliti langkah preventif apa saja yangd apat kita lakukan.

Perubahan menuju budaya anti korupsi tidak hanya dilakukan dengan membenahi sistem yang ada seperti penegakkan hukum UU anti korupsi, perlindungan saksi, kontrol masyarakat melalui LSM (contohnya, ICW[3]) hingga reformasi birokrasi yang telah mulai dilakukan sekarang ini. Yang tidak kalah penting adalah membenahi para penggerak sistem tersebut yaitu manusia. Langkah pembentukan budaya anti korupsi yang paling mendasar diberikan di dalam sebuah keluarga. Keluarga harus menjunjung tinggi nilai kejujuran. Orang tua harus mampu memberi teladan bagi anak-anaknya. Sering kita jumpai orang tua yang menyuruh anaknya berkata bahwa mereka sedang tidak ada di rumah kepada tamu yang datang padahal orang tua tersebutadadi rumah hanya saja sedang tidak ingin menerima tamu. Tindakan seperti ini mengajarkan bahwa anak boleh berbohong dan anak bahkan bisa bekerja sama dengan orang lain untuk berbohong. Seharusnya orang tua sebagai guru pertama anak-anaknya mampu menanamkan nilai-nilai kebenaran dan budi pekerti yang luhur sesuai ajaran agama dan nilai-nilai di masyarakat. Di dalam dunia pendidikan pun sering kita temui praktek ketidakjujuran.Contohnya saja, untuk mencapai target kelulusan 100%.Sudah menjadi rahasia umum bahwa ada guru di sebuah sekolah yang rela memberikan jawaban ujian kepada anak didiknya. Padahal output dunia pendidikan yang terpenting adalah bukan hanya nilai akademis sang anak tetapi juga keluhuran budi dan kesehatan mental sang anak. Bila dibiarkan terus seperti ini, tentunya kita hanya akan mengahsilkan orang pintar tanpa akhlak yang nantinya justru menjadi koruptor-koruptor masa depan. Solusi yang bisa dipertimbangkan untuk permasalahan di atas adalah dengan penambahan jam untuk mata pelajaan yang mampu memberi makan rohani dan jiwa anak seperti, Agama, PPKn (Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan), dan Sejarah. Kurikulum pelajaran ini harusnya tidak hanya ditekankan pada hapal-menghapal isi buku teks, pasal-pasal, sejarah lampau melainkan mengajak siswa untuk membahas masalah-masalah faktual dan isu-isu krusial mengenai masalah yang sedang dihadapi bangsa melalui forum diskusi sehingga setiap anak menyadari dan turut peduli akan nasib bangsa kita ke depan. Ada beberapa sekolah yang telah melakukan upaya untuk melatih siswa-siswanya berlaku jujur. Sebuah sekolah membuka kantin jujur dimana si murid dapat berbelanja dengan melayani diri sendiri, mulai dari mengambil barang yang ingin dibeli, membayar hingga mengambil jumlah uang kembalian sendiri. Adapun kegiatan yang belum lama ini dilakukan oleh anak-anak Sekolah Dasar di Jawa Tengah adalah upaya menulis surat antikorupsi. Memang untuk menuju perubahan besar harus dimulai dari yang kecil, dibina terus secara berkesinambungan hingga akhirnya tercipata budaya baru yang mampu diterima masyarakat. Seperti Napoleon pernah berkata, “Sesuatu yang salah bila diulang-ulang terus maka akan menjadi sebuah kebenaran”. Lantas apa yang kita ragukan, sesuatu yang kita perjuangkan ini adalah sebuah kebenaran, jangankan diulang-ulang tidak dikatakan pun akan tetap menjadi sebuah kebenaran.

Sumber

· Wikipedia. (2008) ICW. Wikipedia. Diakses tanggal 15 Januari 2008 di:

http://en.wikipedia.org/wiki/ICW.htm

  • Analisa- Fakta dan Kenyataan di Indonesia. Abbas Amien. Diakses tanggal 15 Januari 2008 di:

http://www.transparansi.or.id

  • Memantau Anggaran Publik. Rinto Andriono. Diakses tanggal 15 Januari 2008 di:

http://www.transparansi.or.id

  • Pengertian atau Definisi Korupsi. Diakses tanggal 15 Januari 2008 di:

http://www.transparansi.or.id

  • Pemberantasan Korupsi di Indonesia. Muhd. K. Salim. Diakses tanggal 15 Januari 2008 di:

http://www.transparansi.or.id

  • UU RI No.25 Thn.2003 Tentang Perubahan Atas UU No.15 Thn.2002 Tentang Tindak Pidana Pencucian Uang. Diakses tanggal 15 Januari 2008 di:

http://www.tempointeraktif.com

  • Dampak Suap dan Korupsi terhadap Kinerja Ekonomi. Andi Irawan. Diakses tanggal 15 Januari 2008 di:

http://www.sinarharapan.com

  • Dampak Sosial Politik dari Korupsi. Diakses tanggal 15 Januari 2008 di:

http://www.transparansi.or.id

  • UU RI nomor 30 Tahun 2002 Tentang Komisi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi. Diakses tanggal 15 Januari 2008 di:

http://www.tempointeraktif.com

  • Siswa Dilatih Jujur Melalui Perangkat Sekolah untuk Budaya Anti Korupsi. Diakses tanggal 15 Januari 2008 di:

http://www.republika.co.id/online_detail.asp?id=319382&kat_id=23

  • Generasi Muda Indonesia adalah Pendorong Reformasi. A. Umar Said. Diakses tanggal 15 Januari 2008 di:

http://www.transparansi.or.id

  • Prospek Manajemen Proyek Profesional dalam pemberantasan KKN di Indonesia. Nugget F.Gunawi PMP. Diakses tanggal 15 Januari 2008 di:

http://www.transparansi.or.id

  • Hukum Lemah, Korupsi Merajalela. Diakses tanggal 15 Januari 2008 di:

http://www.transparansi.or.id

  • Jangan Terlalu Serius. Dhoni Handhoko. Diakses tanggal 15 Januari 2008 di:

http://www.transparansi.or.id

  • Kasus-kasus Korupsi di Indonesia. Diakses tanggal 15 Januari 2008 di:

http://www.tempointeraktif.com

  • Pendidikan Anti Korupsi. Prof. Dr. H. Buchari Alma. Diakses tanggal 15 Januari 2008 di:

http://www.cimbuak.net

  • PP RI No. 71 Tahun 2000 Tentang Tata Cara Pelaksanaan Peran Serta Masyarakat dan Pemberian Penghargaan Dalam Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi. Diakses tanggal 15 Januari 2008 di:

http://www.tempointeraktif.com

http://www.kpk.go.id/modules/news/article.php?storyid=1267

  • UU RI No. 20 Tahun 2001 Tentang Perubahan Atas UU No. 31 Tahun 1999 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi. Diakses tanggal 15 Januari 2008 di:

http://www.tempointeraktif.com

  • Strategi Pemberantasan Korupsi Nasional. Diakses tanggal 15 Januari 2008 di:

http://www.transparansi.or.id

  • Supremasi Hukum, Kenyataan Yang Sulit Terwujud. Anang Usman, SH. . Diakses tanggal 15 Januari 2008 di:

http://www.transparansi.or.id

  • UU RI No. 31 Tahun 1999 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi. Diakses tanggal 15 Januari 2008 di:

http://www.tempointeraktif.com




[1] IPK (Indeks Persepsi Korupsi) adalah indeks penilaian besarnya korupsi di suatu negara yang dikeluarkan oleh Transparency International (lembaga dunia yang bergerak dalam upaya pemberantasan korupsi). Angka 1 merujuk pada negara terkorup dan 10 untuk negara terbersih. IPK dilihat dari layanan publik yang diberikan oleh pemerintah di negara yang bersangkutan.

[2] Dikutip dari Tajuk Rencana, Surat Kabar Harian Kompas tanggal 13 November 2007

[3] ICW (Indonesian Corruption Watch) adalah sebuah organisasi non-pemerintah (NGO) yang mempunyai misi untuk mengawasi dan melaporkan kepada publik mengenai aksi korupsi yang terjadi di Indonesia





Hello world!

7 02 2009

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!